Dosen ITS Ciptakan Aplikasi Pemantauan Covid-19

[vc_row full_width=”stretch_row_content” row_dynamic_height=”75″ row_min_height=”300″ css=”.vc_custom_1590744865779{background-image: url(https://mostar.co.id/wp-content/uploads/2020/01/articles-head.png?id=11167) !important;}” el_id=”article-header”][vc_column][vc_custom_heading source=”post_title” use_theme_fonts=”yes” font_container=”tag:h2|text_align:left” el_class=”article-title”][vc_column_text el_class=”article-date-auth”]03 Juni 2020 – Admin[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row el_id=”article-desc”][vc_column][vc_column_text el_class=”article-content”]REPUBLIKA.CO.ID,  SURABAYA — Tim dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerja sama dengan Institute of Electrical and Electronics Engineers Special Interest Group on Humanitarian Technology (IEEE SIGHT) mengembangkan aplikasi pemantauan pasien Covid-19 berbasis mobile. Pembuatan aplikasi tersebut menindaklanjuti kerja sama pembuatan web pemantauan pasien Covid-19 dengan Dinkes Jatim, yakni tracingCovid19.jatimprov.go.id.

“Project ini berjudul Web Based Application for Tracing Covid-19 in East Java Province, Indonesia. Yakni sebuah aplikasi versi mobile yang dipergunakan untuk memantau data pasien Covid-19 beserta visualisasi lokasinya di wilayah Jawa Timur,” kata Ketua Tim, Diana Purwitasari melalui siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (29/5).

Diana menjelaskan, salah satu kekurangan sistem informasi di Indonesia adalah kurangnya data yang saling terintegrasi. Oleh karenanya, melalui aplikasi ini, Dinas Kesehatan Jawa Timur (Dinkes Jatim) dapat menjalankan fungsi kontrolnya secara optimal.

Nantinya, kata dia, Dinkes Jatim akan berkoordinasi dengan dinkes-dinkes kabupaten/ kota untuk pengumpulan data. “Namun akses penggunaannya terbatas dulu, tidak semua masyarakat bisa mengakses. Hanya level daerah,” ujar Diana.

Jika aplikasi ini berhasil diimplementasikan, kata Diana, data yang terkumpul bisa diakses sesegera mungkin, sehingga mempermudah pekerjaan pemerintah. “Update data bisa lebih cepat, jadi tidak lagi harus menunggu setiap sore untuk update data secara manual seperti sekarang ini,” ujar alumnus program master di Saga University, Jepang tersebut.

Diana menegaskan, aplikasi ini tetap membutuhkan kerja sama dan koordinasi terus-menerus dengan pemerintah. Sebab, pengawasan mengenai pelaksanaan seperti kesesuaian data, tampilan informasi, dan pengimpelentasian harus tetap diperhatikan.

“Dukungan pemerintah juga bisa memperkecil masalah-masalah teknis dalam pelaksanaan nantinya,” kata Diana.

Diana mengatakan, aplikasi yang dorancang juga dapat digunakan untuk pemantauan virus dan penyakit menyebar lainnya ini. Dia berharap, dengan diciptakannya aplikasi ini, persebaran Covid-19 atau penyakit menyebar lain seperti demam berdarah dapat dipantau secara cepat.

“Sehingga turut mempercepat penanganannya dan membendung penyebarannya. Kami akan terus melakukan pemeliharaan aplikasi ini sampai bulan Desember, tapi kita tetap berharap sebelum itu Covid-19 sudah berakhir,” ujar Diana.

Source[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *